Aku dan Kupu-kupu 22 Tahun yang Lalu
Kilas balik 22 tahun
yang lalu, saat aku masih diantar menuju sekolah bersama ayah, kupu-kupu masih
sering banyak dijumpai di sepanjang jalan menuju sekolah. Kami kerap berjalan kaki,
ia mengangkatku di pundaknya seolah-olah semuanya terasa ringan, terbang, seperti
kupu-kupu berwana kuning hari itu. 22 tahun berlalu, aku baru mengetahui bahwa
kupu-kupu berwarna kuning itu berasal dari family Pieridae.
22 tahun berjalan sejak
hari itu, kini aku bekerja dengan orang-orang yang cukup “gila” dengan lingkungan.
Mungkin kata ”gila” di sini berlebihan. Tetapi sebenarnya merujuk pada militansi positif terhadap
pengetahuan tentang lingkungan. Misalnya, saat aku dan rekan kerja mengendarai
mobil, seekor burung kecil (yang nyaris tidak terlihat) sedang bertengger. “Stop!!!”
Kata salah satu orang, iya mengambil kamera yang berukuran besar persis seperti
yang aku lihat di channel TV Nat Geo Wild 22 tahun lalu. Ia langsung
tahu “Oh ini burung migran dari Cina,” ujarnya. Damn! Seumur hidup baru
pertama kali aku melihat kemampuan seperti ini. Ternyata itu sebuah hal yang
sangat lumrah di lingkungan kerjaku.
Pun saat aku menyiram
tanaman di halaman kantor, seekor burung terbang bebas melintas cepat.
Sekelebat saja. Rekan kerja yang menemaniku langsung berteriak, “Wah, elang!” Damn!
Berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk mengenali cara setiap burung terbang? Saat
itu ia tampak menyesal karena berdiri di halaman tanpa sebuah kamera sehingga gagal
menangkap momen elang tersebut terbang melintas. Dari raut wajahnya, itu bukan
sebuah penyesalan biasa. Melainkan penyesalan yang teramat menyesal.
Di kantor ini pula aku
menemukan orang yang cukup “gila” dengan ular. Ia bercerita pernah membawa
beberapa ular di dalam kamarnya—Di usia ini aku baru tahu bahwa ada cabang
ilmu herpetofauna yang mempelajari hewan melata dan berdarah dingin. Selain
memelihara ular di dalam kamarnya, ia juga memelihara kalajengking. Binatang-binatang
tersebut disimpan erat di dalam kamarnya agar tidak membuat penghuni rumah
lainnya merasa tidak nyaman. Namun, suatu hari, salah satu kalajengking tidak
sengaja lepas keluar dari kamar. Mama dari teman tersebut berteriak “Ko buang
semua barang-barang ini!” Entah bagaimana detailnya (saya lupa) seluruh
binatang tersebut akhirnya ia lepaskan.
Tentu aku bukanlah
bagian dari orang-orang itu yang cukup “gila” dengan pengetahuan cabang ilmu perbinatangan.
Namun, satu titik aku merasa perlu untuk mempelajarinya agar tidak merasa
berbeda. Di kantor ini, setiap orang seakan memiliki kekhasan masing-masing. Baik
itu pada binatang atau tumbuhan. Akupun dihadapkan pada kebingungan taksa apa
yang harus aku pelajari. Cukup rumit, aku ingin mempelajarinya karena memang
suka dan tertarik, bukan hanya ego untuk ingin diakui sebagai orang yang
mempelajari taksa tertentu. Atau karena kewajiban untuk mempelajari karena sedang bekerja di bidang konservasi.
Seiring berjalannya
waktu, aku terkesima akan keindahan kupu-kupu yang banyak kutemui dengan mudah
di kampung terpencil di Kabupaten Sorong. Aku mengingat kembali, kupu-kupu di
era ini cukup sulit untuk ditemukan, terutama di kampung halaman, Jember,
maupun kota yang familiar di kehidupanku belakangan ini, di Jogja.
Hari itu aku sedang
menyusuri hutan bersama tim. Seekor kupu-kupu melintas, aku mematung melihat kupu-kupu tersebut terbang. “Kupu-kupu
yang itu baru terdaftar kemarin di Sorong. Sebelumnya cuma terdokumentasi di
Papua New Guinea,” ujar salah satu tim hari itu. “Hah??? Kok kamu tahu?” Aku bertanya
terheran-heran. Kemudian ia menjawab “Iya, soalnya aku yang daftarin.” HAAAHHHH???
Rasa heranku masih memuncak. Tidak terpikirkan olehku akan bekerja bersama
orang-orang yang cukup “gila” dengan binatang.
Kegilaan ini belum
selesai. Saat kami sedang melihat drama korea, ada kupu-kupu
yang sekelebat terlihat di drama tersebut. Ia seketika mengatakan “Graphium
sarpedon, dari family Papilionidae.” Aku meragukan pengetahuannya,
lantas kubuka google dan mencari gambar kupu-kupu yang baru saja disebutkannya.
Ternyata betul, gambar yang muncul persis seperti yang ada di drama tersebut.
Belum selesai kekagumanku, ia bercerita bahwa pernah menulis buku tentang
identifikasi kupu-kupu. Ia mengaku hafal puluhan jenis kupu-kupu yang ada di Papua.
Ia adalah Ruly Fadli,
seseorang yang membangkitkan memori masa kecil betapa aku sangat menggemari
kupu-kupu 22 tahun yang lalu. Saat aku kecil, saking sukanya aku dengan
kupu-kupu, tetanggaku yang kini sudah almarhumah menangkap kupu-kupu dan
dimasukkan ke dalam plastik besar transparan. “Mbak Ajeng, ini kupu-kupu ada
berapa?” 3 kupu-kupu berwarna kuning dan hijau diikat di dalam plastik. Ia
sangat antusias melihat aku tertawa menggenggam plastik pemberiannya. Namun karena
kupu-kupu terlihat lemas, saat itu aku berpikir mungkin ia kehabisan nafas,
kulepaskan kembali tiga kupu-kupu tersebut.
Secara sukarela aku
meminta kepada Ruly untuk belajar taksa serangga, dengan fokus kepada kupu-kupu.
Permintaan tersebut disambutnya dengan antusias. Persis seperti tetangga yang
memberiku plastik berisi kupu-kupu 22 tahun yang lalu. Ruly menunjukkan puluhan
spesimen yang berhasil ia kumpulkan selama bekerja di Sorong.
Menangkap kupu-kupu
ternyata ada etikanya. Ketika menangkap kupu-kupu, kita wajib mengidentifikasi kupu-kupu
tersebut. Kita harus tahu bagaimana setiap detailnya. Kita tidak diperbolehkan
untuk menangkap kupu-kupu dari spesies yang sama (yang pernah diidentifikasi). Hal
ini dimaksudkan agar kupu-kupu yang ditangkap tersebut tidak mati dengan
sia-sia. Melainkan digunakan sebagai pembelajaran untuk kemudian diidentifikasi
dan wajib dijadikan sebagai spesimen.
Di hari Sabtu, aku
bersama dengan teman-teman memutuskan untuk berburu kupu-kupu di sebuah kebun. Tentu
itu adalah pengalaman yang menyenangkan, persis seperti 22 tahun lalu saat aku
menangkap kupu-kupu menggunakan wadah makanan bekas dari yasinan di
rumah tetangga. Kali ini kami menangkap kupu-kupu menggunakan jaring yang proper.
Persis seperti jaring di kartun Spongebob yang digunakan untuk berburu
ubur-ubur. Menyenangkan sekali. Dari kupu-kupu yang berhasil diidentifikasi,
beberapa di antaranya kami ambil sebagai spesimen, kupu-kupu yang sudah ada
spesimennya kami lepaskan kembali.
Aku tak pernah
membayangkan akan mempelajari morfologi, famili, dan spesies kupu-kupu. Namun
kini, setiap melihat kupu-kupu di kampung, aku spontan mengambil jaring untuk
mengidentifikasinya. Sebagian besar dilepaskan kembali; hanya sedikit yang,
karena keterbatasan pengetahuanku, disimpan sebagai spesimen.
Aku tidak ingin
mempelajari kupu-kupu hanya karena keindahannya. Lebih dari itu, aku ingin
memahaminya sebagai bagian dari upaya menambah pengetahuan tentang lingkungan.
Kupu-kupu bukan sekadar warna yang melintas di udara; mereka bekerja diam-diam,
berpindah dari satu bunga ke bunga lain, memastikan taman tetap hidup dan terus
berbunga. Dalam sayap yang rapuh itu, ada peran besar yang sering luput dari
perhatian. Kini aku kerap melamun di pinggir kampung hanya untuk melihat seekor
kupu-kupu sedang hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain.







Makasih let ilmunyahhhhhh. Lop ❤️🔥
BalasHapus